Dear, ‘Big girl don’t cry’ Tak terasa hari ini adalah H-8 sebelum kepulanganku ke Jogjakarta, setelah menetap 2 bulan di kota metropolitan ini, Jakarta. Mengapa ini terdengar lebih mudah daripada apa yang kurasakan? Seharusnya aku gembira dapat kembali ke Jogja, bertemu keluargaku, bapak, ibu, dan simbok. Karena, disini, akan tertinggal separuh hatiku –terdengar seperti drama queen– untuk menetap, memeras pikiran dan tenaga, demi masa depan kami. Proses ini wajar, dan sangat wajar jika aku merasakan sedikit perih di sudut hatiku ini, ya, hanya sedikit, selebihnya unimagined, karena ini pertama kalinya bagiku. Sedikit aku jabarkan, 6 tahun lebih kita tidak pernah jauh, sabtu malam yang selalu aman, setidaknya kami berada di kota yang sama selama 6 tahun. Kini, aku berada di depan gerbang, gerbang masa depan yang dinamai Long Distance Relationship. Mungkin aku hanya merasa takut saja jadi persoalan ini terlalu kubesarkan, tapi masih unimagined bagai...
Haloooo salam flying ! Sebenarnya wisata kuliner ini terjadi setelah wisata dari Sadranan, pulangnya aku dan kakandaku mampir ke bakso Klenger di daerah Nologaten. Ide ini tersembul akibat kakandaku yang ngidam pengen dijajain bakso yang ukurannya supeeer guedhe. Jadilah aku yang tanya tanya dimana ada warung bakso yang jual kayak begitu. Ternyata memang ada di daerah sebelah barat Amplaz. Yak kita duduk lalu memesan….. 1 porsi bakso klenger, 1 porsi nasi putih, dan 2 gelas jeruk hangat. Theeeen taraaaaa…. Baksonya guede pol, sampe di sediain piso buat ngiris/mbelah bakso itu tadi. Nyam-nyam-nyam-nyam mulailah kita makan, and kakandaku yang notabene si pemakan besar alias makannya banyak tidak sanggup menghabiskannya, padahal sudah kubantu lho dengan memakan nasi + telur (isi dari bakso). Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kita sudah makan sebelum pergi makan bakso. haha Setelah menyisakan 2 potong bakso yang ukurannya tidak kecil...
Salam flying ! Dalam liburan ini aku semedi #halah, dan hasilnya, aku menemukan satu kata yang menjadi kunci dari segalanya. BERANI. BERANI dalam hal apapun (asal jangan berani sama orang tua) haha J berani bertindak dan menghadapi resikonya, berani bertanya, berani memulai sesuatu, berani memutuskan sesuatu, berani disini dalam hal kebenaran bukan kebetulan dan kebiasaan. Berani menghadapi resiko dari sesuatu yang kita lakukan adalah satu hal yang bagi sebagian besar orang sulit dilakukan. Mengapa sulit? Karena di dalam hati kita masih ada dan tersimpan keraguan, dan berbagai pertanyaan yang menguatkan keraguan itu. 11. Apakah aku bisa? 22. Bagaimana jika aku gagal? 33. Apa kata orang lain jika aku melakukan hal ini? 44. Bagaimana jika aku ditertawakan dan dipermalukan? 55. Bagaimana jika hasil dari pekerjaa...
Komentar
Posting Komentar