#akurapopo

Dear,
Aku tau aku sedang bimbang tapi aku tak mau mengakuinya. Aku harus meyembunyikan kebimbanganku di depannya.
Aku ragu meskipun aku sudah mencoba bersyukur tiap detik akan dia. Mungkin aku hanyalah seseorang yang kurang diperhatikan sehingga pikiranku mulai berterbangan kemana-mana. Semua pikiran buruk melayang di kepalaku.

Aku hanya berpikir, sudahkah aku di jalan yang benar? Sudahkah aku berjalan dengan peta yang benar? Aku mencari jawabannya dengan berdoa, namun hatiku ini mungkin sedemikian masih kotornya sehingga jawaban dari Tuhan tak kudengar, atau memang sengaja aku menutup telinga akan  jawaban itu?
Aku mulai berpikir betapa aku lebih beruntung daripada sahabat-sahabatku yang terjebak cinta dengan pasangan yang berbeda dari mereka, sedangkan aku sudah menemukan pasangan yang ‘sama’. Seharusnya aku lebih bersyukur, harusnya aku berbahagia dengan itu. Dan, harusnya sahabatku itu menjadi seperti aku, menemukan pasangan yang ‘sama’, apalagi kita sekarang sudah beranjak dewasa dan matang. Aku hanya tidak dapat membayangkan sakitnya hati mereka ketika harus berpisah karena perbedaan.

Entah, tapi memang aku merasa mereka lebih bahagia daripada aku. Karena aku terjebak disini, berjalan ditempat, tanpa bisa terlepas darinya. Tanpa bisa aku bayangkan kita mungkin hanyalah sebatas teman yang kadang mesra (?). Semua pertemuan hanyalah formalitas bahwa kita adalah pasangan. Komunikasi hanyalah elemen pelengkap seperti bawang goreng. Komunikasi yang terjadi diantara kita kalah oleh komunikasi sepasang kekasih yang dipisahkan Laut Cina Selatan. Alasannya sibuk, dan aku tau memang dia sibuk. Tapi apakah selamanya akan seperti ini? Kapan dia tidak sibuk? Sepanjang hidupnya dia akan selalu sibuk. Sekolah = sibuk belajar UAN, UAS, Ulangan Harian. Kuliah = sibuk berorganisasi, belajar UTS-UAS, Tugas Akhir, Skripsi. Bekerja = sibuk berorganisasi masyarakat, belajar untuk presentasi meeting, ada proyek besar, mengurusi klien perusahaan. Kesibukan itu tak kan ada habisnya bagi manusia, semua orang juga sibuk, tapi apakah semua orang seperti dia apakah semua perempuan juga mengalami hal seperti ini?, jadi sampai kapan aku akan terus bertahan dengan kesibukan itu?

Kebahagiaanku terkalahkan oleh sepasang kekasih yang tau bahwa esok mereka akan berpisah selamanya. Siapa yang membuat kebahagiaan itu? Aku yang membuatnya, aku yang membuat diriku sendiri tidak bahagia. Aku yang takut untuk melepas diri. Lalu kapan aku akan berani? Kapan kebahagiaan itu kubuat? Tuhan…


Aku hanya berpikir untuk berhenti, tapi kapan aku belum tau.

Komentar

  1. mungkin fungsi pacar baginya itu sama dengan alternatif ketika tidak sibuk. Kamu= pengisi waktu kosong. Hohohohoh

    BalasHapus
  2. ironis bgt :"(
    padahal aku juga sama sibuknya tp nggak pernah berhenti hubungi dia #duhmas haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goodbye - wait for me, my love

Bakso Klenger @.@

be BRAVE !