Tulisannya ...


Tulisannya, yang membuatku mulai memperhatikan semua gerak - geriknya. Tulisannya yang membuatku selalu menahan senyum geli. Untuk ukuran seorang cowok, tulisannya terlalu rapi bahkan lebih rapi daripada tulisanku sendiri. Setiap huruf yang ia tulis selalu disematkan titik kecil yang tak terlihat, yang membuatnya sangat lamban saat menulis.

Gayanya yang sederhana, tidak neko-neko seperti kebanyakan anak cowok dikelasku. Karena saking tidak neko-nekonya aku sempat berpikir bahwa dia adalah orang aneh. Di bangku dekat tembok kelas dia bergerombol dengan kawan - kawannya yang notabene sama - sama aneh -dan mereka sering dipanggil F4-. Mereka mendengarkan lagu - lagu anime Jepang, lalu bermain kartu, entah kartu apa yang jelas bukan remi atau uno, dan kelihatannya kartu anime Jepang.

Hpnya bermerk Sony Ericsson, dan nicknamenya saat sedang chatting lewat hp adalah nikelovers. Akibat dari nickname yang sedikit ambigu itu salah seorang sahabatku penasaran dengan nickname itu dan mencari keberadaan orang aslinya. Dengan PeDe-nya sahabatku itu mencari di kolong meja siapa cowok yang memakai sepatu bermerk NIKE ataupun jaket yang bermerk sama, dan hasilnya nihil. Dan yang membuatku tertawa adalah kenyataan bahwa nike dari nickname nikelovers adalah bukan NIKE dari merk sepatu olahraga terkenal melainkan adalah Nike, nama seorang cewek pacar si nikelovers.

Dia pendiam dan sangat menjengkelkan sekali! Saat itu aku menjadi seksi usaha dana untuk kegiatan siswa-siswa Katolik SMAku dan aku berencana untuk mengumpulkan koran bekas dari semua siswa yang beragama Katolik, dia salah satunya.

"Besok bawa koran bekas ya?" kataku pada dia.
"Buat?" pertanyaan singkat,padat dan jelas. Yang membuatku semakin gemes dengannya. Padahal seminggu yang lalu sudah kuumumkan pada teman-teman untuk membawa koran bekas paling lambat 1 minggu lagi, tapi rupanya dia dulu sedang asyik menatapi layar hpnya.

"Buat dijual, kemarin kan dah kuumumin! Pokoknya besok kamu harus bawa koran bekas, kalo nggak kamu harus bayar 10 ribu!!" aku mengancamnya karena kesabaranku hampir hilang.

Keesokan harinya, aku kembali berjalan ke mejanya, "mana korannya?! Kamu bawa aja ke mejaku ya." kataku sambil berlalu kembali ke mejaku.
"Nih." dia menyodorkan selembar kertas koran dimejaku. Astaga! Aku berteriak kesal dalam hati, rasanya saat itu juga ingin ku lempar dia dengan sepatuku.
"Lho?? Kok cuma selembar sih? Ini namanya sama aja bohong!! Sini bayar 10 ribu!" setengah kesal dan setengah menyerah menghadapi orang seperti itu.
"Ini kan namanya koran bekas juga, aku punyanya cuma ini, aku kan dah bawa koran bekas jadi nggak usah bayar 10 ribulah." panjang lebar dia mempermainkan aku. Saking jengkelnya aku hanya bisa melotot kesal padanya. Bunyi bel tanda istirahat selesai pun berbunyi, semua siswa berebut kembali ke kelasnya masing-masing. Sedangkan aku begegas mengambil buku dan membereskan tempat pensil karena akan pindah kelas mengikuti pelajaran agama di ruang agama.

Dan, disinilah aku, duduk disebelah orang yang membuatku kesal pagi ini sekaligus membuatku tersenyum penuh geli melihatnya mencatat perkataan guru agamaku. Diruangan yang sempit itu konsentrasiku untuk memperhatikan pelajaran pecah gara-gara cara menulisnya yang aneh dan lucu.

Entah mengapa akibat dari kejadian koran bekas itu aku menjadi agak dekat dengannya. Dia memang pintar, terbukti dengan aku yang menjadikannya sebagai sumber jawaban saat aku tidak bisa mengerjakan soal-soal UTSku. Mulai saat itu kita menjadi makin dekat, apalagi ditambah dengan adanya UTS, karena dia sangat membantu sekali di ujianku ini.

Meskipun saat itu aku tau dia sudah mempunyai pacar dan aku tak begitu mempermasalahkannya, karena aku begitu tidak percayanya orang seperti dia dapat memiliki seorang kekasih, tapi aku merasa nyaman jika berada di dekatnya. Dia ternyata begitu lucu bahkan saking lucunya aku sampai tidak dapat tertawa mendengar leluconnya, karena dia begitu jayus. Begitulah aku menyindirnya tiap kali dia melucu.


Dia yang cara menulisnya lucu tapi leluconnya yang amat sangat jayus bagiku, dia yang pernah membuatku jengkel setengah mati akibat ulahnya dan seketika itu juga membuatku tersenyum geli melihat cara menulisnya, dia bernama Petrus Hartanto Widyatmoko.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goodbye - wait for me, my love

Bakso Klenger @.@

be BRAVE !